Pendidikan Akhlak Menurut Syekh al-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

Pendidikan Akhlak Menurut Syekh al-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

Oleh : Ustadzah Rohani. S.Ag., M.Pd. (KAMAD MTs As’adiyah Dapoko)

Sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, diperlukanlah pengembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, dengan mempertimbangkan aspek-aspek pengaruh positif dan negatif. Hal ini karena pendidikan sebagai bagian dari peradaban manusia, mau tidak mau pasti akan mengalami perubahan dan perkembangan. Akan tetapi realita pendidikan akhir-akhir ini menunjukkan perubahan dan pemandangan yang kontras, dimana guru hanya sebagai “pentransfer ilmu” layaknya robot, dan siswa sebagai “penerima” layaknya robot pula. Dan akhirnya menjadi suatu tatanan “mekanis” bagai mesin. Bahkan selain itu masalah akhlak juga kurang diperhatikan, baik akhlak terhadap guru, akhlak terhadap sesama murid. Maka jangan heran ketika Az-Zarnuji pengarang kitab talimul mutaallim mengatakan: banyak dari sebagian pelajar yang sebenarnya mereka sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memperhatikan etika (akhlak) dalam menuntut ilmu.

Oleh sebab itu, kondisi pendidikan yang demikian mendorong kita untuk membangun cara pandang (worldview)baru dalam pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan (knowledge oriented) dan keterampilan (skill oriented), namun juga berorientasi pada nilai (values oriented),Karena proses pembelajaran yang menekankan pada nilai-nilai akhlak yang terpuji dan mulia (kejujuran, keharmonisan, dan saling menghargai) adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan, bahkan dielakkan.

Proses pendidikan yang mengedepankan akhlak atau nilai-nilai etik sebagaimana diatas rupanya mendapat perhatian serius oleh tokoh pendidikan abad ke-12 M, yaitu Az-Zarnuji.Dia telah menyusun kitab Ta’limul Muta’allim yang mana didalamnya sarat dengan akhlak atau nilai-nilai etik dan estetik dalam proses pembelajaran. Kitab ini telah dijadikan referensi bagi santri di sebagian besar pondok pesantren di nusantara, Sehingga sebelum memulai pembelajaran maka seorang santri haruslah terlebih dahulu belajar akhlak. Adapun nilai akhlak tersebut tampak pada pemikiran Az-Zarnuji tentang relasi dan interaksi guru dengan murid, murid dengan murid, guru dengan murid bahkan murid dengan lingkungan sekitar.

Pendidikan Akhlak dalam Ta’lim al-Muta’allim

Kitab Ta’lim al-Muta’allim, merupakan sebuah kitab panduan pembelajaran (belajar dan mengajar) terutama bagi para murid, berisi muqaddimah dan mempunyai 13 fasl (bagian).
Dalam muqaddimahnya, guru kita Az-Zarnuji mengatakan bahwa pada zamannya, banyak sekali para penuntut ilmu (thalibu al-ilmi) atau murid yang tekun belajar akan tetapi tidak mampu untuk memetik manfaat dari ilmu tersebut (mengamalkan dan menyebarkannya). Menurutnya hal ini terjadi karena peserta didik sudah meninggalkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap penuntut ilmu.

Adapun didalamnya terdapat beberapa konsep pendidikan yang sangat erat kaitannya dengan pendidikan sebagai transfer nilai (value) dan bukan hanya merupakan transfer ilmu pengetahuan (intellectual) dan keterampilan (skill). Diantara konsep transfer nilai tersebut adalah sebagai berikut:

Akhlak merupakan sarana utama dalam pendidikan

Kitab Ta’limul Muta’allim, merupakan panduan pembelajaran (belajar mengajar) terutama bagi murid. Tertulis dalam muqaddimah, Az-Zarnuji mengatakan bahwa pada zamananya, banyak sekali para penuntut ilmu (murid) yang tekun belajar namun tidak bisa mendapatkan memetik manfaat dari ilmu tersebut (mengamalkan serta menyebarkannya). Hal ini terjadi karena peserta didik meninggalkan persyaratan yang harus dipenuhi,sehingga mereka tidak berhasil. Az-Zarnuji dalam muqaddimahnya mengatakan bahwa kitab ini disusun untuk meluruskan tata cara dalam menuntut ilmu. Adapun dari fasl 1 sampai 13, Az-Zarnuji memberikan solusi tentang cara-cara menuntut ilmu.

Menurut Az-Zarnuji pendidikan akhlak adalah menanamkan akhlak mulia serta manjauhkan dari akhlak yang tercela dan mengetahui gerak gerik hati yang dibutuhkan dalam setiap keadaan, ini wajib diketahui seperti tawakkal, al-inabah, taqwa, ridha, dan lain-lain.Akhlak adalah sifat-sifat manusia untuk bermu’amalah dengan orang lain.Sebagaimana yang disebutkaan Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dinukil dari Al-Qurtubi bahwa akhlak adalah sifat-sifat manusia untuk bermu’amalah dengan orang lain, baik sifat terpuji maupun sifat tercela. Az-Zarnuji juga berpendapat bahwa ilmu itu memuliakan pemiliknya, karena ilmu adalah perantara kebaikan dan ketaqwaan untuk mengangkat derajat disamping penciptanya dan kebahagiaan yang abadi, ilmu sebagai perantara untuk mengetahui sifat-sifat manusia seperti: takabbur, tawadhu, lemah lembut, ‘iffah, isrof (berlebih-lebihan), bakhil (pelit), jubn (pengecut), maka dengan ilmu tersebut manusia akan bisa membedakan mana yang mulia dan mana yang tercela.

Kemudian belajar menurut Az-Zarnuji adalah bernilai ibadah, dan dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan duniawi dan sejalan dengan konsep pemikiran para ahli pendidikan, yaitu menekankan bahwa proses belajar mengajar diharapkan mampu menghasilkan ilmu yang berupa kemampuan pada tiga ranah, yang mana menjadi tujuan pendidikan atau pembelajaran, baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dan ukhrawi menekankan agar belajar adalah proses untuk mendapatkan ilmu, hendaknya diniati untuk beribadah. Artinya, belajar sebagai manifestasi perwujudan rasa syukur manusia sebagai seorang hamba kepada Allah Swt. yang telah mengaruniakan kepada kita akal.

Lebih dari itu, hasil dari proses belajar mengajar yang berupa ilmu (kemampuan dalam tiga ranah tersebut), hendaknya dapat diamalkan manusia, karena buah ilmu adalah amal. Pengamalan serta permanfaatan ilmu hendaknya selalu dalam koridor keridhaan Allah Swt. yakni untuk mengembangkan serta melestarikan agama Islam dan menghilangkan kejahilan, baik pada dirinya maupun orang lain. Inilah buah dari ilmu yang menurut Az-Zarnuji akan dapat menghantarkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat kelak.

Guru

Guru dianggap sebagai unsur yang mendasar dalam pembelajaran, dengan segala keteguhan, kesungguhan, dan segala kesabarannya akan sangat berpengaruh pada pendidikan, karena pendidikan merupakan tanggung jawab yang dipikul oleh seorang guru sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di depan Allah kelak, maka dengan menjalankan amanah tersebut harus sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Allah Swt.

Dalam hal ini, Az-Zarnuji mengatakan bahwa para guru harus memiliki sifat yang terpuji. Para guru di syaratkan memiliki sifat wara’, memiliki kompetensi atau kemampuan dibanding muridnya, dan lebih tua usianya dari pada muridnya. Kemudian disamping itu, Az-Zarnuji juga menekankan pada kedewasaan, baik kedewasaan ilmu ataupun umur bagi seorang guru tersebut. Hal ini senada dengan pernyataan Abu Hammad Hanifah ketika bertemu dengan Hammad, seraya berkata: “Aku dapati Hammad sudah tua, berwibawa, santun, dan penyabar. Maka aku menetap disampingnya, dan akupun tumbuh dan berkembang”.

Para ilmuwan, sastrwan, dan filosof, telah memberikan nilai yang terhormat dan menempatkan posisi strategis bagi para pelaku pendidikan. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali yang kemudian dikutip oleh M. Athiyah Al-Abrasyi: “Siapa yang memperoleh ilmu pengetahuan dan yang mengambil daya guna untuk kepentingan dirinya, kemudian mentransformasikan untuk orang lain, maka orang itu ibarat matahari yang bersinar untuk dirinya dan orang lain”.

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Guru memiliki peran membersihkan, mengarahkan, dan mengiringi hati nurani siswa untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa ini adalah dimensi sufistik. Kedua adalah peran pragmatik. Dalam artian, guru berperan menanamkan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan kepada muridnya. Selain itu, guru juga memilihkan ilmu apa yang harus didahulukan dan diakhirkan, beserta ukuran-ukuran yang harus ditempuh dalam mempelajarinya.

Peserta Didik

Unsur selanjutnya yang memegang peranan penting dalam pendidikan adalah anak didik. Anak didik adalah manusia yang akan dibentuk oleh dunia pendidikan. Ia merupakan objek sekaligus subjek, yang mana tanpa keberadaannya mustahil proses pendidikan akan berjalan.

Dalam hal ini Az-Zarnuji lebih mengaksentuasikan pada kepribadian atau sikap dan moral yang mulia, yang sangat diperlukan oleh para pelajar. Adapun kepribadian yang harus dimiliki tersebut sebagaimana dikatakan Az-Zarnuji, adalah setiap murid harus mempunyai sifat-sifat tawadhu’, ‘iffah, yaitu sifat yang menunjukkan harga diri yang menyebabkan seseorang terhindar dari perbuatan yang tidak pantas dilakukan, kemudian sifat tabah, sabar, wara’ (menjauhkan diri dari dosa, dari maksiat, dari perkara syubhat), serta tawakkal, yaitu menyerahkan segala perkara hanya kepada Allah semata.

Kemudian Az-Zarnuji juga menekankan agar dalam menuntut ilmu, setiap murid hendaknya mencintai ilmu, hormat kepada guru, keluarganya, sesama penuntut ilmu, sayang kepada kitab dan menjaganya dengan baik, bersungguh-sungguh dalam belajar dengan memanfaatkan waktu, tekun dalam menuntut ilmu serta mempunyai cita-cita tinggi dalam menuntut ilmu pengetahuan.  hal ini senada dengan pernyataan Imam Al-Gahazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, yaitu: “kewajiban setiap guru ialah terlebih dahulu membersihkan jiwa dan akhlak yang tercela serta sifat-sifat yang hina, mempersempit kesibukan dengan keduniawiaan.

Leave a Reply