Ceramah : Cara Menjaga Hati
https://akuislam.com

Ceramah : Cara Menjaga Hati

Oleh : Haris Nasier. S.H.

أَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah yang Haq, Allah yang telah menganugrahkan hidayah kepada kita untuk menjadi muslim yang baik, muslim yang selamat, muslim yang bercita-cita menggapai kebahagiaan yang abadi, surga yang dikelilingi sungai-sungai yang nirmala.

Shalawat dan salam kepada rasul pilihan, rasul yang paling pemurah, rasul yang lebih mencintai ummatnya dari siapapun, yaitu Rasullullah Muhammad Saw.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

Insyaa Allah yang akan saya coba kupas pada kesempatan ini adalah “Cara Menjaga Hati”.

Dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Rasulullah Saw mengingatkan kita dalam sebuah haditsnya:

النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: An-Nu’man bin Basyir berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.

Dalam hadits ini dapat kita pahami bahwa hati menjadi bagian tubuh yang paling utama dalam diri seseorang. Baik buruknya perbuatan seseorang sangat tergantung dari keadaan hatinya. Ketika hatinya bersih atau suci maka yakinlah bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan yang diridhoi Allah Swt, sebaliknya ketika hati seseorang kotor atau rusak maka perbuatannya akan jauh dari hal-hal yang di ridhoi Allah Swt. Sebagai umat Islam kita harus berusaha menjaga hati kita agar tetap suci dan bersih agar perbuatan yang kita lakukan adalah perbuatan yang diridhoi Allah Swt, sehingga kita akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan dunia maupun di akhirat kelak. Aamin.

Untuk terhindar dari rusaknya hati, kita tentu harus mengetahui apa saja yang menyebabkan hati menjadi rusak?

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Munabbihât ‘ala Isti‘dâdi li Yaumil Mî‘âd memaparkan penjelasan Imam Hasan al-Bashri bahwa setidaknya ada enam hal yang menyebabkan hati manusia menjadi rusak.

  1. Berbuat dosa dengan berharap kelak ia bisa bertobat.

Ia sadar bahwa apa yang dilakukan adalah kedurhakaan, tapi berangan-angan ia bisa menghapus kesalahan-kesalahan kini di kemudian hari. Ini merupakan sebuah kesombongan karena terlalu percaya diri bahwa Allah Swt akan memberinya kesempatan bertobat lalu melimpahinya rahmat.

Juga masuk kategori sikap meremehkan karena perbuatan dosa dilakukan bukan karena kebodohan melainkan kesengajaan. Alih-alih tobat bakal datang, bisa jadi justru hati makin gelap, dosa-dosa kian menumpuk, dan kesadaran untuk kembali kepada Allah Swt makin tumpul.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

  1. Berilmu tapi tidak mau mengamalkannya.

Pepatah Arab mengatakan, al-‘ilmu bilâ ‘amalin kasy syajari bilâ tsamarin (ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah). Artinya tidak ada gunanya kalau seseorang mempunyai ilmu tapi tidak mengamalkannya. Ilmu yang tidak di amalkan akan hilang keberkahannya sehingga bukan hanya tidak bermanfaat tapi biasa menjadi malapetaka.

Pengertian “tidak mengamalkan ilmu” bisa dua: yaitu seseorang memiliki ilmu tapi tidak mau mengajarkannya kepada orang lain. Atau seorang memiliki ilmu tapi menggunakan ilmu yang dimilikinya pada hal-hal yang di murkai oleh Allah Swt.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

  1. Berbuat amal tidak disertai dengan keikhlasan.

Ikhlas adalah mengerjakan segala sesuatu dengan niat karena Allah Swt. Ikhlas merupakan hal sangat penting dalam setiap amal perbuatan seorang muslim, karena tanpa didasari dengan niat ikhlas maka sebanyak apapun ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah Swt. Kata ikhlas memang begitu ringan di ucapkan lidah namun sangat berat untuk dilaksanakan dalam setiap perbuatan seseorang, namun sebagai umat muslim mari kita selalu berusaha untuk ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

  1. Memakan rezeki Allah Swt tapi tidak mau bersyukur.

Karunia dan syukur merupakan pasangan yang tak bisa dipisahkan. Jika tidak ada kehidupan manusia di dunia ini yang luput dari karunia Allah Swt, maka bersyukur adalah pilihan sikap yang wajib. Orang yang tak mau bersyukur adalah orang yang tidak memahami hakikat rezeki. Jenis anugerah Allah Swt mungkin ia batasi hanya kepada ukuran-ukuran yang bersifat material belaka, misalnya jumlah uang, rumah, jenis makanan, dan lain-lain. Padahal, rezeki telah diterima setiap saat, berupa nikmat bendawi maupun non bendawi. Mulai dari napas, waktu luang, akal sehat, hingga berbagai kecukupan kebutuhan lainnya seperti makan, tempat tinggal, dan pakaian. Hanya mereka yang sanggup merenungkannya yang akan jauh dari kufur nikmat alias tidak bersyukur.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad mengartikan syukur dengan ijrâ’ul a‘dlâ’ fî mardlâtillâh ta‘âlâ wa ijrâ’ul amwâl fîhâ (menggunakan anggota badan dan harta benda untuk sesuatu yang mendatangkan ridha Allah). Artinya, selain ucapan “Alhamdulillah”, kita dianggap bersyukur bila tingkah laku kita, termasuk dalam penggunaan kekayaan kita, bukan untuk jalan maksiat kepada Allah Swt.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

  1. Tidak ridha dengan karunia Allah Swt.

Tidak ridha berarti tidak meneriman keputusan Allah Swt. Orang yang tidak ridha bukan saja tidak mensyukuri nikmat Allah Swt tapi kerap menyalahkan Allah Swt. Bahkan menuduh Allah Swt tidak adil terhadap dirinya. Naudzubillah min dzalik. Oleh karena itu mari kita yakin bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah kehendak Allah Swt, dan apa yang menjadi keputusan Allah adalah yang terbaik bagi hambanya.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

  1. Mengubur orang mati namun tidak mengambil pelajaran darinya.

Peristiwa kematian adalah nasihat yang lebih nyata daripada pidato-pidato dalam panggung cerama. Ketika ada orang meninggal, kita disajikan fakta yang jelas bahwa kehidupan dunia ini fana. Liang kuburan adalah momen perpisahan kita dengan seluruh kekayaan, jabatan, status sosial, dan popularitas yang pernah dimiliki. Selanjutnya, orang mati akan berhadapan dengan semua pertanggung jawaban atas apa yang ia perbuat selama hidup di dunia.

Sebagai kesimpulan:

Ada enam hal yang menyebabkan hati manusia menjadi rusak.

  1. Berbuat dosa dengan berharap kelak ia bisa bertobat.
  2. Berilmu tapi tidak mau mengamalkannya.
  3. Berbuat amal tidak disertai dengan keikhlasan.
  4. Memakan rezeki Allah Swt tapi tidak mau bersyukur.
  5. Tidak ridha dengan karunia Allah Swt
  6. Mengubur orang mati namun tidak mengambil pelajaran darinya.

Hadirin Wal Hadirat Rahimakumullah

Mungkin sampai di sinilah ceramah yang sempat saya bawakan lebih dan kurangnya mohon di maafkan, kalau ada benarnya datangnya dari Allah Swt, dan kalau ada salahnya datangnya dari diri saya pribadi, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf, dan tidak ada satupun manusia yang sempurna di muka bumi ini. Dan saya akhiri dengan ucapan.

وَبِااللهِ التَّوْ فِيْقِ وَالسَّعَادَةِ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply